Waktu yang Berjalan


waktu terus berjalan dan tidak akan berhenti sampai kiamat datang

dan selama ini aku mengikuti setiap pergerakan waktu, tidak pernah melawan atau tidak ada seorang pun yang bisa melawannya

dan aku mulai sadar kalau aku tidak mau egois hanya demi kebahagiaanku sendiri

aku tidak mau memaksa kehendakku agar dituruti orang lain

aku rela dilupakan, aku rela ditinggal, aku rela dihina bahkan aku rela dijatuhkan asal mereka bisa mencapai tujuan hidup mereka masing-masing

mungkin akunya yang terlalu terbawa perasaan dan terlalu sedih sehingga semuanya terasa berat dan aneh

aku tidak mau mati di dalam kesedihan yang sebenarnya tidak perlu aku pikirkan

hari demi hari, bulan demi bulan aku belajar menata diriku sendiri tanpa dia.. mungkin aku yang keenakan karena selalu bersamanya dan kalau sekarang dia tidak ada, serasa ada yang berbeda

apakah ini reaksi yang wajar, atau berlebihan? apakah aku salah jika belum terbiasa?

beban yang datang kepadaku masih mengingatkanku akan kehadirannya di masa lalu

tapi aku tau kalau aku sedang berada di masa sekarang bukan dimasa lalu lagi

aku juga tidak bisa kesana lagi kapanpun bahkan aku tidak tau apakah dia masih ingat itu atau tidak??

mungkin itu yang membuatku tidak bisa mengontrol kesedihan dan ketakutanku hingga kini

karena kehadirannya yang tidak ada itulah yang membuatku sulit beradaptasi..

tapi, aku tidak mau egois karena aku hanya ingin membahagiakan diriku sendiri, melihat dia sukses dan bahagia itu sudah lebih dari cukup untuk aku

mungkin dari kejadian ini, aku jadi belajar untuk tidak bergantung kepadanya terus-menerus dan aku harus mencari kebahagiaanku yang lain

aku sangat mencintai diriku karena itulah aku selalu bersyukur atas apa yang terjadi padaku

aku tau aku sanggup mengatasi kesedihan dan ketakutan yang sedang melingkupiku karena kekuatanku lebih besar dari pada yang aku tau

sekarang ya sekarang, dulu ya dulu, tidak bisa dicampur adukkan seperti memasak di dapur, semuanya disatupadukan untuk menciptakan suatu hidangan

dan aku harus belajar untuk membedakannya.. daripada merusak masa depan orang, lebih baik aku kehilangan dia untuk selama-lamanya

meski itu butuh waktu yang cukup lama, aku akan mencoba untuk tegar sama seperti yang pernah ia berikan kepadaku waktu aku sakit

dan aku yakin, kalaupun aku harus kehilangan orang yang berarti dalam hidupku, aku masih bisa bertahan dan masih ada harapan yang lain untuk aku karena harapan akan terus tumbuh untuk orang yang percaya kepada keajaibanNya

kalau memang aku dan dia tidak bisa bertemu lagi, aku ikhlaskan kepergiaannya meski aku harus belajar dari awal karena itu adalah hidupnya bukan aku

dan setiap orang berhak mencari kebahagiaannya saat aku tidak diperlukan lagi

tidak hanya itu saja, aku juga sadar aku ini sakit dan sakitku bisa kambuh sewaktu-waktu, daripada dia sibuk memikirkan sakitku, lebih baik dia memikirkan masa depannya

karena itulah aku rela ia lupakan sesaat atau bahkan selamanya

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s