Bencana dalam Perilaku


aku yang terlalu baik telah menjerumuskan banyak orang dan aku merasa bersalah sekarang

seharusnya aku bisa jaga sikapku dan mengetahui batas-batas yang tidak boleh aku lewati

kini, aku memilih mundur dan mengalah dengan mempersempit pergerakanku kepadanya… dengan ini aku memberi ruang lebih luas kepadanya untuk berkembang sendiri

aku tau dia tidak mengerti yang aku maksudkan, tapi biarlah dia berpikir begitu karena dia jauh lebih besar daripadaku

semua tindakanku selalu dianggap salah dan berlebihan.. aku sadar, tindakanku itu perangkap bagi siapapun yang terkena perangkapku

kadang itu juga yang membuatku bingung, aku harus apa? aku hanya ingin membantu dan aku hanya ingin membuka relasi kepada orang lain… aku ingin membuka diri dan menutup diriku yang lama

tapi ternyata kebaikanku yang manis itu terlalu manis untuk mereka rasakan dengan lidah mereka…

kini aku berusaha untuk mengontrol diriku agar aku bisa berhenti sejenak atau bahkan selamanya dari pekerjaanku ini

aku bersyukur diberi kelebihan yang langka, dengan kelebihan ini aku tampak berbeda dari yang lain… dengan perbedaan ini juga aku menunjukkan kalau aku bisa bertahan hidup dalam duka yang paling parah sekalipun

aku hanya bisa berharap setiap hari agar orang yang menangis dan menjerit kesakitan bisa berkurang jumlahnya dan jumlah orang yang tertawa bahagia bisa bertambah

namun, jika perilakuku adalah sebuah bencana, aku akan menghentikannya dan membiarkan dia maju dan berkembang sendiri

andai dia mengerti bahwa aku hanya ingin berpesan, “jangan biarkan dirimu tergantung kepadaku, jagalah dirimu sebaik mungkin karena aku tidak akan selamanya bisa berada disampingmu dengan terus membelamu..”

apakah kamu mengerti itu? apakah kamu sadar kalau aku sudah memanjakanmu dengan membiarkanmu tergantung padaku? harus dengan cara apa agar kamu tau dan mengerti?

hal utama yang bisa aku lakukan hanyalah mendoakanmu dari jauh, mengingat semua kebaikanmu kepadaku dan menjadikan pertemuan kita sebagai harta yang tak terlupakan

bertemu denganmu itu juga anugerah terindah yang masih sempat aku miliki, namun sekarang aku harus belajar untuk menjauh darimu agar kamu tidak bergantung padaku, begitupun sebaliknya

andai kamu perempuan, mungkin kamu akan mengerti yang sedang aku rasakan, perasaan bingung, bimbang dan juga kasihan yang terus membayangiku dan mendorongku untuk terus datang kepadamu

yang bisa aku lakukan dari dulu adalah menitipkanmu kepada Tuhan, seperti yang kamu katakana barusan, “biarlah Tuhan yang membelaku.”

aku berharap dengan yang tersisa, agar kamu tidak pernah menyadari kepergianku ini yang secara diam-diam karena aku tau kamu tidak akan pernah menyadarinya…

kenapa? karena kamu sudah berulang kali bilang kepadaku, kalau kamu tidak suka chatting, jadi kupikir, kemanapun aku pergi bahkan kalau pun aku telah tiada, kamu tidak akan menyadarinya atau mungkin tidak akan mau tau….

aku tdak pernah sakit hati soal itu, hanya saja dengan sikap dingin yang seperti itu, kamu melatihku untuk menurunkan harapanku dan menempaku untuk lebih kuat lagi saat aku terlupakan seketika….

aku bersyukur dan berterima kasih untuk semua sikapmu yang telah membuatku tidak pernah berharap lebih sehingga aku hanya menganggapmu kakak yang baik, bijaksana dan luar biasa walau kadang sikapmu itu diluar kemampuanku

semoga dengan menghindar darimu, kamu bisa berubah menjadi lebih baik lagi karena aku percaya kamu akan selalu berada dalam lindunganNya yang kudus.. jika bukan aku yang menolongmu, pasti akan datang saatnya mereka berbondong-bondong menolongmu untuk tertawa lepas dalam segala bebanmu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s