Batasan Melayani


Facebook adalah salah satu alat aku mencari informasi, inspirasi, bertemu dengan orang-orang baru, menambah wawasan luar, berbagi serta menolong sesama walaupun hanya lewat foto dan tulisan

ketika pergerakanku terbatas, aku jadi bertanya-tanya, apakah Facebook itu meracuni sosialitaku? apakah Facebook membantuku mengenal dunia luar?

apakah berbagi di dunia maya itu sebuah kesalahan yang bisa merenggut nyawa? apakah Facebook itu bisa menyita perhatianku dari dunia nyata?

bagaimana jika Facebook adalah satu media yang Tuhan sediakan untukku agar aku bisa berbagi dan mewartakan Injil kepada dunia? apakah itu juga sebuah kesalahan yang tidak bisa diperbaiki?

sebenarnya siapa yang berlebihan? aku atau pasanganku?

ini hanyalah masalah sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan, tapi aku bingung apa dan aku harus bagaimana dengan akun Facebook itu

apakah aku harus mematikannya? lalu bagaimana dengan informasi kuliah?

apakah aku benar-benar kecanduan dengan media social itu walaupun aku hanya membaca homepage nya saja?

mungkin lewat masalah kecil ini aku bisa mengerti sesuatu, bahwa aku harus bermain diluar atau fokus pada tugas-tugas kuliah

saat Tuhan menuntunku untuk tampil berbeda, aku sempat bertanya kepadaNya secara tidak langsung, mengapa aku yang Kau pilih jika ternyata perutusan ini tidaklah mudah karena aku harus melawan permintaan pasanganku sendiri

saat itu terjadi, aku seperti terjepit pada pilihan yang sulit dan maaf saja aku tidak bisa memilihnya

biarlah orang memandang aku plin-plan dan tidak tegas dalam mengambil keputusan

bagiku, melayani sesama dan melayani pasangan itu sama pentingnya dan beratnya karena keduanya tertuju pada satu misi yaitu “berbuat kasih tanpa batas dan tanpa balas”

aku selalu berharap, dengan aktifnya aku di dunia maya bisa mengubah sesuatu yang negative menjadi positif, membawa pengaruh baik pada jutaan teman yang tidak aku kenal diluar sana

menjadi inspirasi bagi mereka yang dirudung masalah dan kegelapan

sejak aku lahir hingga sekarang aku telah merepotkan banyak orang terlebih orang tuaku dan pasanganku, apakah salah jika sekarang aku ingin menolong dan berguna bagi orang lain?

atau jangan-jangan selama ini pertolonganku selalu menunggu pamrih?

ditinggalkan dan dilupakan sudah makananku setiap hari, disalahkan dan dipandang rendah juga merupakan minumanku untuk meredakan rasa haus

setidaknya itu bisa mendidikku, menuntunku untuk menjadi orang yang sabar, dan selalu percaya

mengandalkan Tuhan sampai akhir hifupku

aku tidak ada hak untuk membalas dan menghakimi… aku hanya mengerjakan bagianku dengan semampuku dan sisanya itu kuserahkan kepada Dia yang telah mengutus aku sampai hari ini

Tuhan, berilah aku keberanian menjalani tugas-tugas dariMu, bantu aku memilih jalan hidupku jika sudah saatnya bagiku untuk merelakan salah satu dari tujuan hidupku

aku tau, aku tidak boleh melepaskan tugas yang ada untuk duniawi tetapi aku boleh saja melepas hal duniawi untuk Tuhan, bukan?

aku sayang dan cinta perutusanku serta pasanganku

pasangan yang kini hadir disampingku adalah anugerah yang tidak akan aku tukarkan dengan apapun karena dia juga salah satu alasanku untuk bertahan hidup

walaupun sering salah paham, aku selalu cari cara untuk berdamai dengan diriku sendiri dan dengannya karena aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya

meski demikian, aku tetap percaya dan membiarkan Tuhan mengambil bagianNya supaya rencanaNyalah yang terjadi padaku bukan rencanaku sebab Tuhan lebih tau yang terbaik untukku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s