Mencintai Diri Sendiri


menerobos waktu yang terus berjalan, menuliskan harapan yang tidak pernah berhenti, dan disanalah terpancarkan apa yang selama ini aku cari

aku sadar, yang aku miliki saat ini hanyalah sedikit harta, harta yang menunjukkan cinta yang besar

setiap hari, aku belajar untuk mencintai diriku sendiri, menerima segala kekuranganku dan melihat diri ini dengan mata Tuhan

aku belajar kasih yang besar dan bagaimana cara untuk mengaplikasikannya dalam hidupku yang fana ini

disaat emosiku melonjak dan menguasai hatiku ini, aku berpikir dimana aku harus menuangkan segala yang aku rasakan,dan mengapa aku harus menyembunyikan yang tidak pernah aku lakukan?

aku memang tidak punya apa-apa untuk aku banggakan, tetapi ada sesuatu yang mengusik hati nuraniku, bahwa aku haruslah berbicara

aku bersyukur masih ada ditempat dimana aku diajarkan untuk bermain dalam lubang penderitaan

hatiku berbicara didalam setiap tetes keringat yang membersihkan semua peluh lelahku… segala keinginanku memimpin setiap langkahku

langkahku yang tersendat-sendat sudah membuahkan benih harapanku agar aku tidak berhenti melangkah meski aku harus terjatuh

bintang dilangit adalah bukti kuasa yang tersembunyi dibalik awan, sebab aku masih ingin memiliki alasan untuk tersenyum dan tertawa dalam tangis yang menyiksa

dunia ini memang kejam, tidak bisa mengerti inginnya hatiku, tetapi waktu adalah alatku untuk tetap memandang masa depan dengan penuh keyakinan

tumbuh dewasa dan besar dalam iman adalah pilihanku untuk terus punya harapan walaupun dunia ini tidak mengatakan hal-hal yang indah

kebutaan yng pernah aku alami dimasa lalu, sudah menunjukkan suatu kisah yang berbeda,bermakna dan indah

aku bersyukur langit itu biru, sehingga kasih Tuhan itu memelukku disetiap hembusan angin dan air hujan yang turun, petir yang menggelegar adalah salah satu bentuk ketakutan nyataku

aku punya keyakinan tertentu, dimana aku percaya Tuhan itu ada, Ia ppernah hidup, Ia pergi sambil meninggalkan satu warisan yang mengubah seluruh hidupku ini

seluruh sisi gelap hidupku terasa sudah tidak berarti lagi dan terang harapan itu ternyata ada disaat aku menyerahkan apa yang sudah tidak ada

semua yang sempat hilang dariku seolah menggambarkan sebuah lukisan yang sangat indah dan mengetuk jiwaku untuk terus punya harapan dalam Tuhan

saat ini, Tuhan memang tidak terlihat dan hanya bisa dirasakan oleh hati yang percaya, tetapi dari sanalah aku sebenarnya belajar mempercayai dan mencintai hidupku yang juga tidak bisa aku pegang dengan genggaman tangan

angin saja boleh pergi meninggalkan kesejukan batin, menerobos kulit dan telinga, tetapi aku berharap dam kerapuhan, bahwa cinta itu layak dalam hati yang terluka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s